Selasa, 23 Agustus 2022
“PERSONAL SELLING”
PADA JASA LAYANAN PERPUSTAKAAN ISI SURAKARTA
Perpustakaan perguruan tinggi sebagai unit pelaksana teknis di bidang perpustakaan, mempunyai tugas memberi pelayanan pustaka kepada civitas akademika, terutama dosen dan mahasiswa. Perpustakaan perguruan tinggi direncanakan dan dikembangkan untuk dapat membantu pelaksanaan program Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan pelaksanaan sistem kredit pada program pendidikan, diharapkan dosen dan mahasiswa banyak memanfaatkan perpustakaan, sehingga perpustakaan perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kelengkapan dan fasilitas yang telah dibangun oleh perpustakaan,kadang kurang dilirik dan diminati oleh pemustaka khususnya dosen dan mahasiswa. Pengunjung yang jauh dari target, pemanfaatan koleksi yang kurang maksimal, bahkan terkadang ketidaktahuan mahasiswa dan dosen akan adanya kegiatan maupun fasilitas terbaru yang dimiliki perpustakaan perlu dikaji lebih mendalam oleh perpustakaan. Dalam hal ini perpustakaan memang membutuhkan promosi untuk memberitahukan produk yang dimilikinya agar pemustaka tertarik dan berminat berkunjung selanjutnya memanfaatkan fasilitas perpustakaan.
Selama ini Perpustakaan ISI Surakarta telah mengadakan beragam program dan kegiatan yang didanai oleh lembaga seperti pameran buku, pengembangan otomasi perpustakaan, dan pendidikan pemakai /user education. Setiap perpustakaan memiliki cara masing-masing agar pengguna mau terbujuk datang dan mau memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Bagi perpustakaan yang memiliki dana besar seperti Perpustakaan Nasional , mereka memanfaatkan iklan sebagai sarana untuk mengingatkan pengunjung agar mau berkunjung ke Perpustakaan. Baik iklan melalui televisi, media cetak, radio maupun media lainnya sehingga pengunjung merasa diingatkan agar datang ke perpustakaan. Sementara bagi perpustakaan yang kurang memiliki dana,menuntut perpustakaan untuk lebih cerdas mempromosikan perpustakaan, agar pengguna mengenal akan produk atau kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan. Anggaran perpustakaan yang kadang relatif kecil mendorong pustakawan sebagai pengelola perpustakaan dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengenalkan dan membujuk pengguna perpustakaan untuk lebih peduli menengok produk apa saja yang diadakan perpustakaan.
Sudariyah Nasution menyatakan bahwa tujuan promosi perpustakaan adalah menggairahkan minat baca serta menambah jumlah orang gemar membaca agar koleksi perpustakaan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam usaha promosi perpustakaan Nurhadi memakai slogan “tak kenal maka tak sayang”. Berdasarkan prinsip promosi dapat disimpulkan bahwa tujuan promosi perpustakaan adalah memperkenalkan perpustakaan, koleksi,jenis layanan dan manfaat yang dapat diperoleh oleh pengguna perpustakaan. (Mustofa,1996:21). Promosi sebagai bentuk komunikasi pemasaran perpustakaan ditujukan agar perpustakaan lebih dikenal, dikunjungi dan dimanfaatkan oleh pengguna.
Pemilihan bentuk promosi yang tepat,efisien dan efektif merupakan kunci pokok kegiatan promosi. Kegiatan bauran promosi meliputi beberapa elemen antara lain periklanan, penjualan pribadi (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat( public relation) dan pemasaran langsung (direct marketing). Ada beberapa bentuk promosi yang dapat dilakukan perpustakaan dalam meningkatkan pengetahuan pengguna perpustakaan antara lain iklan, kontak perorangan, user education, pameran, penciptaan suasana dan lingkungan perpustakaan, poster, brosur dan web perpustakaan.
Personal Selling merupakan salah satu bentuk bauran promosi.Penjualan personal adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya. (Hermawan,2012:105).
Program user education / pendidikan pemakai merupakan salah satu program kegiatan yang sering diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Program ceramah mahasiswa baru / user education merupakan program tentang pengarahan, pendidikan, dan eksplorasi yang disediakan perpustakaan kepada pengguna perpustakaan untuk menjadikan mereka lebih efektif, efisien, dan mandiri dalam penggunaan sumber-sumber informasi serta pemberdayaannya dan pelayanan informasi yang telah disediakan oleh perpustakaan untuk diakses oleh para pengguna. Kegiatan tersebut dilakukan pada mahasiswa baru bersamaan dengan kegiatan orientasi studi kampus. Pustakawan berperan aktif dalam memberikan ceramah, bimbingan dan motivasi pada mahasiswa baru agar mereka tertarik untuk datang ke perpustakaan. Pustakawan adalah ‘penjual’ dari produk-produk perpustakaan, sedangkan mahasiswa adalah ‘pembeli”. Produk-produk yang ada di perpustakaan seperti beragam layanan dan fasilitas yang dimiliki perpustakaan, ditawarkan pustakawan kepada mahasiswa baru, agar mereka tahu dan mengenal serta mau memanfaatkan perpustakaan. Dalam konteks ini perpustakaan memberikan pelayanan langsung kepada pemakai melalui komunikasi tatap muka (face to face). Peran pustakawan sebagai komunikator dalam memasarkan perpustakaan sangat diperlukan. Pustakawan harus menunjukkan etika berkomunikasi yang baik dengan pengguna. Pustakawan sebagai penceramah, harus memiliki sifat keramahan dan sikap profesional dalam memberikan menyampaikan materi kepada pengguna perpustakaan. Setiap manusia senang diperlakukan special, begitu juga dengan pengguna perpustakaan. Tatapan mata yang ramah,gerak tubuh yang positif,serta kepedulian terhadap kebutuhan pengguna merupakan hal yang perlu diterapkan dalam mewujudkan pelayanan prima (Septina, 2011:22). Sebagai penjual,pustakawan harus komunikatif dan menguasai ketrampilan teknik informasi dengan baik,sehingga dapat secara cepat dan tepat menyajikan dan menawarkan produk informasi kepada pengguna perpustakaan.Program ceramah bagi mahasiswa baru / user education merupakan bentuk dari salah satu bauran promosi yaitu personal selling. Kepuasan pelanggan menjadi tujuan dari aktivitas pemasaran. Perpustakaan harus dapat membangun sebuah ‘partner’ dengan pengguna sehingga pengguna perpustakaan akan merasakan sisi humanis dari pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan dan merasakan kepuasan akan pelayanan yang telah diberikan. Senada hal tersebut, Muktiyo (2006:11) menyatakan bahwa salesmanship merupakan kegiatan menjual dengan hati dan cinta. Pustakawan,dalam hal ini sebagai seorang salesmanship harus mampu ‘menjual’ produk-produk dan layanan yang ada di perpustakaan. Kegiatan pustakawan tidak sekedar bertransaksi dengan pengguna lalu selesai, akan tetapi pustakawan harus dapat melakukan strategi marketing dengan mengedepankan hati dan cinta dalam dalam melayani pengguna perpustakaan.
Program user education sering diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Meskipun demikian masih banyak juga pengguna perpustakaan yang belum mengenal Perpustakaan ISI Surakarta. Adapun pengguna yang sudah mengenal dan berkunjung serta memanfaatkan fasilitas perpustakaan, masih banyak yang belum memahami cara mengakses dan memperoleh informasi yang disediakan perpustakaan. Perpustakaan perlu memantau lebih jauh, program kegiatan yang sudah dilakukan sehingga akan diketahui apa saja kekurangan dan kelebihannya. Berangkat dari fenomena tersebut, peneliti akan mendeskripsikan kegiatan personal selling pada program user education dengan evaluasi Contect,Input,Proses dan Product (CIPP). Model CIPP merupakan satu model penilaian program yang dapat dikatakan cukup memadai. Model ini telah dikembangkan oleh Daniel L.Stufflebeam dan kawan-kawannya (1967) di Ohio State University. (Arikunto,1988:38). CIPP merupakan sebuah akronim, terdiri dari : Context Evaluation, Input Evaluation, Process Evaluation dan Product Evaluation. Penelitian ini tidak akan mengevaluasi program, akan tetapi mendeskripsikan program kegiatan yang telah dilakukan oleh Perpustakaaan ISI Surakarta dengan menggunakan aspek Context, Input, Process dan Product. Aspek Context (konteks) memuat kebutuhan,tujuan pemenuhan dan karakteristik individu yang dilayani. Aspek Input (masukan) meliputi sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan pelaksana program, pembagian tugas dan persiapan, dan dana. Aspek Process (proses) meliputi data penilaian tentang program yang telah dirancang dan diterapkan dalam praktek. Antara lain berupa bentuk kegiatan dan jadwal program, kemampuan staff, sarana dan fasilitas pendukung serta hambatan-hambatan yang ditemui. Aspek Product (produk) memuat pencapaian tujuan dan parameter keberhasilan program dan menanyakan sejumlah responden tentang persepsi mereka terhadap program tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)